Aku dan Sisa Terangku
di pundakku hidup duduk terlalu lama hari-hari datang seperti hujan yang tak sempat reda dan mataku perlahan belajar menyembunyikan lelah agar dunia tak ikut runtuh aku pernah ingin pergi jauh dari suara kepalaku sendiri dari malam yang tak selesai-selesai dari hidup yang terus meminta kuat pada aku yang hampir habis namun di dalam diriku masih ada satu cahaya kecil barangkali wajah seseorang barangkali doa ibu di rumah barangkali harapan yang belum sempat tumbuh cahaya itu redup tetapi belum padam maka aku tetap hidup meski tak tahu harus menuju ke mana meski jalan di depanku tak lagi terlihat jelas ternyata... manusia bisa bertahan bukan karena bahagia melainkan karena masih ada sesuatu yang tak sanggup ia tinggalkan.