Jantung Hati
Seorang sahabat pernah berkata, “Hati akan berjalan sebagaimana mestinya.”
Awalnya saya menganggap itu hanya kalimat bagus—sudah sampai di situ saja. Tapi entah kenapa, dan datang dari mana, kalimat itu terus muncul dan terngiang di kepala setelah percakapan berakhir. Barangkali memang ada kebenaran yang tersimpan di dalamnya—sesuatu yang sangat sederhana, tapi sulit sekali dijelaskan dengan logika sederhana.
Apa iya? Hati, pada dasarnya, tidak perlu menunggu perintah kita untuk bekerja. Ia bergerak tanpa aba-aba, tanpa arah yang jelas. Ia bisa saja dengan mudah melukiskan perasaan yang datang begitu saja.
Hmm... seperti hujan di musim kemarau—tidak seharusnya ada, namun membawa kehidupan. Tidak seharusnya tiba, namun selalu dirindukan. Aneh, kan? Sesuatu yang kelihatannya kecil, bahkan tidak masuk logika, bisa begitu kuat mengguncang bagian terdalam dari diri kita.
Coba bayangkan, kita berkenalan dengan orang baru dalam hidup kita—bisa jadi teman kantor, teman kuliah, teman dari temannya kita, teman mancing, teman dari komunitas penggemar Manchester United, atau bahkan teman masa kecil yang sudah lama tak berjumpa. Kita berbincang untuk pertama kalinya, atau berbincang kembali setelah sekian lama. Menatap wajahnya, melihat matanya, membaca gerak bibirnya—bahkan ketika kita tak benar-benar paham apa yang sedang dibicarakan.
Dari pertemuan pertama itu mungkin tak ada yang istimewa, hanya percakapan ringan yang akan mudah dilupakan. Namun bagaimana jika ada pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Entah sejak kapan, tanpa aba-aba, tanpa alasan yang jelas, hati mulai bergerak. Seperti petir yang menyambar di tengah langit cerah, tiba-tiba saja muncul benih rasa kecil yang tumbuh diam-diam di dalam dada. Begitu saja. Tanpa izin. Tanpa logika. Alamak, tak sopan sekali hati ini.
Atau mungkin, sebagian dari diri kita masih berusaha memahami bagaimana cara hati bekerja. Kita berusaha membuatnya patuh, tunduk pada akal sehat, agar perasaan bisa datang di waktu yang tepat dan pergi tanpa meninggalkan luka. Begitu, kan?
Tapi tidak dengan hati. Ia tidak mengenal patuh, tunduk, dan hal-hal sejenis itu. Ia hadir, kemudian tumbuh, dan—kadang hal yang paling menjengkelkan—menetap di tempat yang tidak semestinya.
Mungkin di situlah keindahannya. Kita, sebagai manusia, sering kali lupa bahwa sesuatu yang datang di waktu yang salah pun bisa saja meninggalkan makna. Iya, kan? Mungkin kita hanya lupa pelajaran itu.
Mau bagaimanapun perasaan adalah perasaan—tidak bisa dengan mudah kita lupakan. Sekecil apa pun, ia tetaplah perasaan. Ia meninggalkan bekas pada tanah yang kering, pada ingatan yang sunyi, dan pada ruang-ruang kecil di dalam diri yang tiba-tiba tumbuh tanpa kita ketahui. Ia mungkin tidak logis, tapi ia nyata.
Dan barangkali, memang begitulah seharusnya hati bekerja—berjalan sebagaimana mestinya.
Komentar
Posting Komentar