Ketika Waktu Menua di Wajahmu

aku ingat,
malam ketika semesta tampak kecil di matamu—
kau bersinar di bawah temaram lampu kota,
tertawa seolah segalanya akan bertahan selamanya.

aku hanya berdiri di sisimu,
menyaksikan waktu telah jatuh pelan di rambutmu,
dan diam-diam berbisik,
akan tetap di sini bahkan setelah semua cahaya padam.

kini, tahun menua di wajahmu,
namun bagiku,
kau masih perempuan dari musim yang dulu—
yang menatap langit seolah bisa menggapainya,
yang membuat aku percaya bahwa cinta
bisa lebih dari sekadar keindahan.

kau bertanya,
“akankah kau masih mencintaiku
saat aku tak lagi muda, tak lagi indah?”

dan aku hanya bisa tersenyum—
sebab aku telah jatuh,
bukan pada kulitmu,
tapi pada caramu menatap dunia
dengan hati yang tak pernah berhenti bergetar.

aku masih di sini,
mencintaimu di antara senyap yang berubah arah,
karena bagiku,
kau tetap rumah—
meski jendela waktunya perlahan tertutup.

Komentar

Postingan Populer