Ruang Bersedih
tak apa kasih,
jika hari ini kau memilih diam,
membiarkan deras air mata bersuara,
sedangkan hujan mengetuk perlahan,
dan waktu memelukmu erat.
aku takkan mendesak senyum,
takkan menuntut ucapan,
cukup biarkan aku menantimu di ambang pintu,
menjaga sepi agar tak menyakitimu lebih dalam.
di ruang bersedih itu,
biarkan duka menulis sendiri akhir ceritanya,
aku hanya ingin menjadi api kecil
yang berayun dalam gelap,
tanpa bertanya kapan tangis mereda.
dan bila nanti kau pulang,
bukan dengan tawa, tapi dengan tenang yang baru,
aku akan tahu—
bahwa mencintaimu
adalah belajar memberimu ruang bersedih,
dan rumah untuk kembali.
Komentar
Posting Komentar