Aku dan Sisa Terangku

di pundakku
hidup duduk terlalu lama

hari-hari datang
seperti hujan yang tak sempat reda
dan mataku perlahan belajar
menyembunyikan lelah
agar dunia tak ikut runtuh

aku pernah ingin pergi jauh
dari suara kepalaku sendiri
dari malam yang tak selesai-selesai
dari hidup yang terus meminta kuat
pada aku yang hampir habis

namun di dalam diriku
masih ada satu cahaya kecil
barangkali wajah seseorang
barangkali doa ibu di rumah
barangkali harapan yang belum sempat tumbuh

cahaya itu redup
tetapi belum padam

maka aku tetap hidup
meski tak tahu harus menuju ke mana
meski jalan di depanku
tak lagi terlihat jelas

ternyata...

manusia bisa bertahan
bukan karena bahagia
melainkan karena masih ada sesuatu
yang tak sanggup ia tinggalkan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer